Kamis, 25 Desember 2014

Makalah Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia



KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karuniaNyalah, Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya. Dengan membuat tugas ini kami diharapkan mampu untuk lebih mengenal tentang Asal Usul dan Persebaran Manusia di Kepulauan Indonesia .
Kami sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini, dapat memberi kesadaran tersendiri bagi generasi muda bahwa kita juga harus mengetahui Asal Usul dan Perkembangan nenek moyang kita di Indonesia .

November 2014
                                                                                            Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah ................................................................................... 1
C.     Tujuan ..................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Asal-Usul Nenek Moyang Indonesia ...................................................... 3
B.     Perseberan Nenek Moyang di Indonesia ................................................ 10
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ............................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 14

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sejarah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan menjadi suatu rangkaian yang erat sepanjang kehidupan manusia. Berkaitan dengan hal tersebut maka sejarah yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah yang berkaitan dengan kebudayaan, terutama kebudayaan asing yang telah memberikan pengaruh dalam kehidupan bangsa Indonesia dan khususnya memberikan pengaruh pada pembentukan kebudayaan Indonesia. Sejarah memberikan pelajaran dan pengalaman untuk manusia di masa sekarang dan di masa yang akan datang.
Dari sejarah akan dapat diketahui kegagalan dan keberhasilan yang dialami oleh manusia dan memberikan suatu pedoman bagi manusia di masa yang akan datang untuk lebih berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu agar dapat mencapai keberhasilan dan peningkatan kualitas kehidupan. Seperti yang dikatakan filsuf terkenal dari Cina, Kong Fu Tse yang mengatakan “Sejarah mendidik kita bertindak bijaksana”. Kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan kebudayaan yang majemuk dan sangat kaya ragamnya. Perbedaan yang terjadi dalam kebudayaan Indonesia dikarekan proses pertumbuhan yang berbeda dan pengaruh dari budaya lain yang ikut bercampur di dalamnya.
Indonesia adalah bangsa yang sangat besar, tetapi banyak masyarakat yang tidak tahu akan nenek moyang bangsa Indonesia sendiri. Dengan semakin berkembangnya zaman, semakin banyak masyarakat yang tidak perduli akan sejarah nenek moyangnya sendiri . Hal ini mengakibatkan Sumber Daya Manusia di Indonesia masih di ragukan . berangkat adri permasalahan ini, kami ingin membahas tentang Asal Usul dan Persebaran Manusia di Kepulauan Indonesia .
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana asal-usul nenek moyang Indonesia?
2.      Bagaimana persebaran nenek moyang di Indonesia?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui asal-usul nenek moyang Indonesia.
2.      Untuk mengetahui persebaran nenek moyang di Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia
Indonesia termasuk salah satu negara tempat ditemukannya manusia purba. Penemuan manusia purba di Indonesia dapat dilakukan berdasarkan fosil-fosil yang telah ditemukan. Fosil adalah tulang belulang, baik binatang maupun manusia, yang hidup pada zaman purba yang usianya sekitar ratusan atau ribuan tahun. Adapun untuk mengetahui bagaimana kehidupan manusia purba pada saat itu, yaitu dengan cara mempelajari benda-benda peninggalannya yang biasa disebut dengan artefak.
Manusia purba yang ditemukan di Indonesia memiliki usia yang sudah tua, hamper sama dengan manusia purba yang ditemukan di negara-negara lainnya di dunia. Bahkan Indonesia dapat dikatakan mewakili penemuan manusia purba di daratan Asia. Daerah penemuan manusia purba di Indonesia tersebar di beberapa tempat, khususnya di Jawa.
Penemuan fosil manusia purba di Indonesia terdapat pada lapisan pleistosen. Salah satu jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia hampir memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di Peking Cina, yaitu jenis Pithecanthropus Erectus.
Penelitian tentang manusia purba di Indonesia telah lama dilakukan. Sekitar abad ke-19 para sarjana dari luar meneliti manusia purba di Indonesia. Sarjana pertama yang meneliti manusia purba di Indonesia ialah Eugene Dubois seorang dokter dari Belanda. Dia pertama kali mengadakan penelitian di gua-gua di Sumatera Barat. Dalam penyelidikan ini, ia tidak menemukan kerangka manusia. Kemudian dia mengalihkan penelitiannya di Pulau Jawa. Pada tahun 1890, E. Dubois menemukan fosil yang ia beri nama PithecanthropusErectus di dekat Trinil, sebuah desa di Pinggir Bengawan Solo, tak jauh dari Ngawi (Madiun). E. Dubois pertama-tama menemukan sebagian rahang. Kemudian pada tahun berikutnya kira-kira 40 km dari tempat penemuan pertama, ditemukan sebuah geraham dan bagian atas tengkorak. Pada tahun 1892, beberapa meter dari situ ditemukan sebuah geraham lagi dan sebuah tulang paha kiri.
Untuk membedakan apakah fosil itu, fosil manusia atau kera, E.Dubois memperkirakan isi atau volume otaknya. Volume otak dari fosil yang ditemukan itu, diperkirakan 900 cc. Manusia biasa memiliki volume otak lebih dari 1000 cc, sedangkan jenis kera yang tertinggi hanya 600 cc. Jadi, fosil yang ditemukan di Trinil merupakan makhluk di antara manusia dan kera. Bentuk fisik dari makhluk itu ada yang sebagian menyerupai kera, dan ada yang menyerupai manusia. Oleh karena bentuk yang demikian, maka E. Dubois memberi nama Pithecanthropus Erectus artinya manusia-kera yang berjalan tegak (pithekos = kera, anthropus = manusia, erectus = berjalan tegak). Jika makhluk ini kera, tentu lebih tinggi tingkatnya dari jenis kera, dan jika makhluk ini manusia harus diakui bahwa tingkatnya lebih rendah dari manusia (Homo Sapiens).
Sebelum menemukan fosil tempurung kepala (cranium) dan tulang paha tengah(femur), Dubois memulai pencariannya dengan berlandaskan pada tiga teori. Ketiga dasar teori tersebut selain digunakan sebagai acuan akademik sekaligus untuk meyakinkan pemerintah kolonial Belanda, bahwa pencarian missing link dalam mempelajari evolusi manusia penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Ingat! Pada masa itu Indonesia masih berada dalam kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Walau begitu, ada juga kegagalan Dubois yang dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan menjadi bermakna. Salah satu kelemahan teori Dubois adalah di missing link, yang menyebutkan mata rantai keramanusia telah terjawab dengan ditemukannya “java man”. Pendapat itu keliru karena penemuan-penemuan selanjutnya fosil manusia purba di Sangiran (Jawa Tengah), Mojokerto (Jawa Timur), juga di Cina dan Tanzania ternyata jauh lebih tua sekitar 500.000 sampai 750.000 tahun dibanding temuannya.
Selain itu, ada kesalahan teori Dubois mengenai volume otak yang meningkat 2 kali lipat sebanding dengan peningkatan ukuran tubuh. Menurut Dubois volume otak fosil “java man” sekitar 700 cc, kurang lebih setengah dari volume otak manusia modern yang sekitar 1.350 cc. Teori tersebut runtuh karena volume otak “java man” berdasarkan penghitungan yang lebih akurat adalah sekitar 900 cc. Sebagai pembanding pada kera besar yang ada sekarang, simpanse misalnya, volume otaknya sekitar 400 cc. “Java man” terlalu pandai untuk mengisi missing link kera-manusia, ia lebih tepat disebut manusia purba. Penemuan fosil manusia purba yang telah dilakukan oleh Dubois pada akhirnya mendorong penemuan-penemuan selanjutnya yang dilakukan oleh para peneliti lainnya. Pada tahun 1907-1908, dilakukan upaya penyelidikan dan penggalian yang dipimpin oleh Selenka di daerah Trinil (Jawa Timur). Penggalian yang dilakukan oleh Selenka memang tidak berhasil menemukan fosil manusia. Akan tetapi upaya penggaliannya telah berhasil menemukan fosil-fosil hewan dan tumbuh-tumbuhan yang dapat memberikan dukungan untuk menggambarkan lingkungan hidup manusiaPithecanthropus.
G.H.R von Koenigswald mengadakan penelitian dari tahun 1936 sampai 1941 di daerah sepanjang Lembah Sungai Solo. Pada tahun 1936 Koenigswald menemukan fosil tengkorak anak-anak di dekat Mojokerto. Dari gigi tengkorak tersebut, diperkirakan usia anak tersebut belum melebihi 5 tahun. Kemungkinan tengkorak tersebut merupakan tengkorak anak dari Pithecanthropus Erectus, tetapi von Koenigswald menyebutnya Homo Mojokertensis. Pada tahun-tahun selanjutnya, von Koenigswald banyak menemukan bekas-bekas manusia prasejarah, di antaranya bekas-bekas Pithecanthropus lainnya. Di samping itu, banyak pula didapatkan fosil-fosil binatang menyusui. Berdasarkan atas fauna (dunia hewan), von Koeningswald membagi diluvium Lembah Sungai Solo (pada umumnya diluvium Indonesia) menjadi tiga lapisan, yaitu lapisan Jetis (pleistosen bawah), di atasnya terletak lapisan Trinil (pleistosen tengah) dan paling atas ialah lapisan Ngandong (pleistosen atas).
Pada setiap lapisan itu ditemukan jenis manusia purba. Pithecanthropus Erectuspenemuan E. Dubois terdapat pada lapisan Trinil, jadi dalam lapisan pleistosen tengah.Pithecanthropus lainnya ada yang di pleistosen tengah dan ada yang di pleistosen bawah. Di plestosen bawah terdapat fosil manusia purba yang lebih besar dan kuat tubuhnya daripada Pithecanthropus Erectus, dan dinamakan Pithecanthropus Robustus. Dalam lapisan pleistosen bawah  terdapat pula Homo Mojokertensis, kemudian disebut pula Pithecanthropus Mojokertensis. Jenis Pithecanthropus memiliki tengkorak yang tonjolan keningnya tebal. Hidungnya lebar dengan tulang pipi yang kuat dan menonjol. Mereka hidup antara 2 setengah sampai 1 setengah juta tahun yang lalu.  Hidupnya dengan memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pithecanthropus masih hidup berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka belum pandai memasak, sehingga makanan dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu. Sebagian mereka masih tinggal di padang terbuka, dan ada yang tewas dimakan binatang buas. Oleh karenanya, mereka selalu hidup secara berkelompok. Pada tahun 1941, von Koeningwald di dekat Sangiran Lembah Sungai Solo juga, menemukan sebagian tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari rahang Pithecanthropus. Geraham-gerahamnya menunjukkan corak-corak kemanusiaan, tetapi banyak pula sifat keranya. Tidak ada dagunya. Von Koeningwald menganggap makhluk ini lebih tua daripada Pithecanthropus. Makhluk ini ia beri nama  Meganthropus Paleojavanicus (mega = besar), karena bentuk tubuhnya yang lebih besar. Diperkirakanhidup pada 2 juta sampai satu juta tahun yang lalu. Von Koenigswald dan Wedenreich kembali menemukan sebelas fosil tengkorak pada tahun 1931-1934 di dekat Desa Ngandong Lembah Bengawan Solo. Sebagian dari jumlah itu telah hancur, tetapi ada beberapa yang dapat memberikan informasi bagi penelitiannya. Pada semua tengkorak itu,tidak ada lagi tulang rahang dan giginya. Von Koeningswald menilai hasil temuannya ini merupakan fosil dari makhluk yang lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus Erectus, bahkan sudah dapat dikatakan sebagai manusia. Makhluk ini oleh von Koeningswald disebut Homo Soloensis (manusia dari Solo).
Pada tahun 1899 ditemukan sebuah tengkorak di dekat Wajak sebuah desa yang tak jauh dari Tulungagung, Kediri. Tengkorak ini ini disebut Homo Wajakensis. Jenis manusia purba ini tinggi tubuhnya antara 130 – 210 cm, dengan berat badan kira-kira 30 – 150 kg. Mukanya lebar dengan hidung yang masih lebar, mulutnya masih menonjol. Dahinya masih menonjol, walaupun tidak seperti Pithecanthropus. Manusia ini hidup antara 25.000 sampai dengan 40.000 tahun yang lalu. Di Asia Tenggara juga terdapat jenis ini. Tempat-tempat temuan yang lain ialah di Serawak (Malaysia Timur), Tabon (Filipina), juga di Cina Selatan. Homo ini dibandingkan jenis sebelumnya sudah mengalami kemajuan. Mereka telah membuat alat-alat dari batu maupun tulang. Untuk berburu mereka tidak hanya mengejar dan menangkap binatang buruannya. Makanannya telah dimasak, binatang-binatang buruannya setelah dikuliti lalu dibakar. Umbian-umbian merupakan jenis makanan dengan cara dimasak. Walaupun masakannya masih sangat sederhana, tetapi ini menunjukkan adanya kemajuan dalam cara berpikir mereka dibandingkan dengan jenis manusia purba sebelumnya. Bentuk tengkorak ini berlainan dengan tengkorak penduduk asli bangsa Indonesia, tetapi banyak persamaan dengan tengkorak penduduk asli benua Australia sekarang. Menurut Dubois, Homo Wajakensis termasuk dalam golonganbangsa Australoide, bernenek moyang Homo Soloensis dan nantinya menurunkan bangsa-bangsa asli di Australia. Menurut von Koenigswald, Homo Wajakensis seperti juga Homo Solensis berasal dari lapisan bumi pleistosin atas dan mungkin sekali sudah termasuk jenisHomo Sapiens, yaitu manusia purba yang sudah sempurna mirip dengan manusia. Mereka telah mengenal penguburan pada saat meninggal. Berbeda dengan jenis manusia purba sebelumnya, yang belum mengenal cara penguburan.
Selain di Indonesia, manusia jenis Pithecanthropus juga ditemukan di belahan dunia lainnya. Di Asia, Pithecanthropus ditemukan di daerah Cina, di Cina Selatan ditemukanPithecanthropus Lautianensis dan di Cina Utara ditemukan Pithecanthropus Pekinensis. Diperkirakan mereka hidup berturut-turut sekitar 800.000 – 500.000 tahun yang lalu. Di Benua Afrika, fosil jenis manusia Pithecanthropus ditemukan di daerah Tanzania, Kenya dan Aljazair. Sedangkan di Eropa fosil manusia Pithecanthropus ditemukan di Jerman, Perancis, Yunani, dan Hongaria. Akan tetapi, penemuan fosil manusia Pithecanthropusyang terbanyak yaitu di daerah Indonesia dan Cina.
Di Australia Utara ditemukan fosil yang serupa dengan manusia jenis Homo Wajakensis yang terdapat di Indonesia. Sebuah tengkorak kecil dari seorang wanita, sebuah rahang bawah, dan sebuah rahang atas dari manusia purba yang ditemukan di Australia itu sangat mirip dengan manusia Wajak. Apabila menilik peta Indonesia yang terbentuk pada masa glasial, memperlihatkan bahwa pulau Jawa bersatu dengan daratan Asia dan bukan dengan Australia. Oleh karena itu, diperkirakan manusia Wajak ini bermigrasi ke Australia dengan menggunakan jembatan penghubung. Diduga mereka telah memiliki keterampilan untuk membuat perahu serta mengarungi sungai dan lautan, sehingga akhirnya sampai di daratan Australia.
Setelah masa penjajahan Belanda selesai, penelitian manusia purba dilanjutkan oleh orang Indonesia sendiri. Pada tahun 1952 penelitian dimulai. Penelitian ini terutama dilakukan oleh dokter dan geolog yang kebetulan harus meneliti lapisan-lapisan tanah. Seorang dokter dari UGM yang mengkhususkan dirinya pada penyelidikan tersebut adalahProf. Dr. Teuku Jacob. Dia memulai penyelidikannya di daerah Sangiran. Penelitian ini kemudian meluas ke Bengawan Solo.
Zaman sebelum manusia mengenal tulisan disebut zaman praaksara. Manusia tersebut, yaitu meganthropus, pithecanthropus, dan homo. Jenis manusia tersebut belum bisa dipastikan asli Indonesia atau pendatang. Berdasarkan keserupaan artefak mesolithikum yang digunakan dengan artefak di Bacson-Hoabinh, dapat diperkirakan bahwa mereka berasal dan Teluk Tonldn. (Bacson Hoabinh terletak di Teluk Tonkin).
Menurut penyelidikan para ahli, nenek moyang bangsa Indonesia bukan asli dari Indonesia. Jenis manusia Homo Sapiens ini terbagi atas tiga subspesies atau ras.
1.      Ras Mongoloid: berkulit kuning, tinggi badan cukup, hidung menonjol sedikit (tidak mancung, tetapi juga tidak pesek), menyebar ke Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.
2.      Ras Kaukasoid: berkulit putih, tinggi, badan jangkung, hidung mancung, menyebar di Eropa dan Asia kecil (Timur Tengah).
3.      Ras Negroid: berkulit hitam, bibir tebal, rambut keriting, menyebar di Afrika, Australia, dan Iran.
Hasil penyelidikan Von Hiene Geldern tentang penyebaran kapak persegi, menyimpulkan bahwa jenis manusia Homo Sapiens bukan asli dari Indonesia. Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Campa, Cochin China, Kamboja, dan daerah-daerah di sepanjang pantai di Teluk Tonkin. Sementara itu, kalau dilihat dari pangkal kebudayaannya, mereka berasal dari wilayah Yunnan di Tiongkok Selatan. Mereka termasuk rumpun bangsa Austronesia. Rumpun bangsa Austronesia terdiri atas dua subspesies/ras, yaitu ras Mongoloid dan ras Austro Melanesoid. Mereka inilah nenek moyang bangsa Indonesia sesungguhnya.
Berdasarkan jenis artefak yang ditemukan, para ahli memperkirakan nenek moyang berasal dari Teluk Tankin yang melakukan migrasi ke daerah lain.
Selain berasal dari Teluk Tankin, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia yang berimigrasi ke Indonesia yang menyebabkan manusia purba di Indonesia mengalami kepunahan. Jenis homo waja kensis yang menjadi penghuni asli Indonesia yang menyebar kea rah Barat dan timur. Mereka yang menyebar ke arah Barat dan Timur termasuk Austro Melansoid, mereka menetap di Sumatera Timur. Dan yang arah Timur menetap di Papua, kepulauan Kei, pulau Seram, dan Sulawesi Selatan. Adapun beberapa pendapat para ahli mengenai asal-usul Nenek moyang Indonesia diantaranya adalah:
1.      Von Hiene Geldern
Menurut Von Hiene Geldern, penduduk bangsa Indonesia sebelum nenek moyang masuk ke Indonesia adalah Homo Wajakensis. Homo wajakensis yang tidak mau berasimilasi berimigrasi menuju ke Timur dan akhirnya melahirkan penduduk Asia Australia.
2.      Mandaline Coloni
Sebelum nenek moyang bangsa Indonesia datang, di wilayah Indonesia sudah berpenduduk suku nagrito dan suku weddoit. Kedua suku ini berasal dari Tonkin yang menyebar ke Indonesia dan pulau-pulau di Pasifik.
 Pada saat nenek moyang bangsa Indonesia datang, suku nagrito sudah punah. Namun suku weddoit masih ada, diantaranya suku Sakai di Siak, suku Kubu di Jambi, dan suku Kubu di Palembang.
3.      H. Kern dan Hiene Geldern
Menurut H. Kein dan Hiene Geldern nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia. Pada mulanya nenek moyang Indonesia bertempat di daerah Yunan (Cina Selatan) ke Selatan daerah Vietnam.
4.      Prof. Dr. H. Kern
Ilmuwan asal Belanda ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa – bahasa yang digunakan di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah Campa dengan di Indonesia, misalnya kata “kampong” yang banyak digunakan sebagai kata tempat di Kamboja. Selain nama geografis, istilah-istilah binatang dan alat perang pun banyak kesamaannya. Tetapi pendapat ini disangkal oleh K. Himly dan P.W. Schmidt berdasarkan perbendaharaan bahasa Campa.
5.      Moh. Yamin
Pendapat Moh. Yamin adalah bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Indonesia sendiri. Hal ini berdasarkan penemuan fosil-fosil dan artefak manusia tertua di Indonesia.
B.     Persebaran Nenek Moyang di Indonesia
Homo erectus dan homo wajakensis pernah tinggal dan hidup di Indonesia. Namun ada yang menduga bahwa kedua jenis manusia purba tersebut bukan nenek moyang bangsa Indonesia.
Demikian pula dengan Austro Melanesoid yang juga diragukan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Berdasarkan ciri-ciri fisik bangsa Indonesia terutama yang tinggi di kawasan Timur yaitu Austro Melanesoid.
Ciri-ciri fisiknya tinggi, berkulit agak gelap, hidung lebih mancung dan berambut keriting. Adapun dugaan bahwa Austro Melanesoid sebagai nenek moyang bangsa Indonesia.
a.       Keturunan langsung dari homo wajakensis, dugaan tersebut didasarkan atas pewaris ciri-ciri fisik ragawi.
b.      Keturunan protoaustroid yang berpindah di sekitar laut tengah dan pernah tinggal di India sebelum bangsa Dravida. Persamaan ragawi dan bahasa mendasari dugaan. Jadi, bangsa ini bukan asli Nusantara.
Nenek moyang bangsa Indonesia bukanlah manusia-manusia jenis Meganthropus Palaeojavanicus, Pithecantropus Erectus, Homo Soloensis, atau Homo Wajakensis. Walaupun terdapat di Indonesia, manusia-manusia jenis itu sudah punah. Untuk mengetahui asal nenek moyang bangsa Indonesia, kita dapat menggunakan dua cara, yakni persebaran rumpun bahasa dan persebaran kebudayaan bercocok tanam.
1.      Rumpun Bahasa Melayu Austronesia
Bahasa yang tersebar di Indonesia termasuk rumpun bahasa Melayu Austronesia. Rumpun bahasa ini meliputi wilayah yang luas: dari Madagaskar di Afrika sampai ke Melanesia dan Polinesia di Samudera Pasifik, lalu dan Taiwan sampai ke Indonesia. Penggunaan bahasa Melayu Austronesia di wilayah yang luas itu erat kaitannya dengan persebaran penduduk yang menggunakan bahasa tersebut. Para pakar sejarah berpendapat bahwa bahasa Melayu Austronesia berasal dari Taiwan. Sekitar 5000 SM, masyarakat di Taiwan menggunakan bahasa yang disebut Proto Austronesia (Austronesia kuno).
Masyarakat di tempat itu telah mengenal cocok tanam dan beternak. Masyarakat itu kemudian menyebar ke sebelah selatan Cina, Vietnam, Semenanjung Malaya, lalu ke Indonesia. Ada juga yang mengarungi laut menuju Filipina terus ke arah kepulauan di Indonesia dan Samudera Pasifik.
2.      Masyarakat Tani di Yunan
Peralihan dan kebudayaan berburu dan mengumpulkan makanan pada kebudayaan bercocok tanam merupakan perubahan amat besar. Perubahan itu tidak mungkin dilakukan oleh penduduk asli Indon esia yang sudah terbiasa dengan kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Para pakar sejarah menyimpulkan bahwa kebudayaan bercocok tanam diperkenalkan oleh  masyarakat pendatang. Mereka ini sudah terbiasa dengan bercocok tanam dan beternak di tempat asalnya. Kebiasaan itu mereka terapkan di tempat baru di Indonesia. Pendatang inilah yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia.
Nenek moyang bangsa Indonesia ternyata berasal dan luar Indonesia, yaitu dan daerah Yunan, di sebelah selatan Cina (sekarang RRC). Kesimpulan tersebut dibuktikan oleh kesamaan artefak prasejarah yang ditemukan di wilayah itu dengan artefak prasejarah di Indonesia. Dari artefak yang ditemukan di Yunan, tampak bahwa sekitar 3000 SM, masyarakat di wilayah itu telah mengenal cocok tanam.
Kemudian, masyarakat Yunan melakukan migrasi ke daerah sekitar Teluk Tonkin, sebelah utara Vietnam. Di tempat itu mereka mengembangkan kebudayaan bercocok tanam. Dari tempat itu, mereka melakukan migrasi ke Kepulauan Indonesia. Migrasi dilakukan secara bergelombang. Gelombang yang satu dengan yang berikut bejarak waktu lebih dan 1000 tahun.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Nenek moyang bangsa Indonesia datang ke nusnatara melalui dua jalur yakni jalur barat dan timur.Migrasi jalur barat di lakukan dari yunan ke semenanjung Malaysia, Kalimantan, menuju Jawa dan Nusa Tenggara. Penyebaran jalur timur di mulai dari Teluk Tonkin menyusuru pantai asia timur menuju Taiwan , Filipina, Sulawesi, Maluku, papua, sampai australia . Mereka datang secara bergelombang, gelombang pertama adalah bangsa prota melayu yang datang membawa kebudayaan kapak persegi dan kapal bercadik satu. Gelombang kedua adalah bangsa deutro melayu yang datang membawa kebudayaan kapak lonjong dan kapal bercadik dua.
Sebelum kedua bangsa melayu tersebut datang ke nusantara da beberapa suku primitive yang sudah terlebih dahulu menetap di nusantara.
Oleh karna itu saat bengsa melayu datang ke nusantara meraka melakukan proses kawin mengawin dangan suku asli yang sudah mendiami nusantara terlebih dahulu. Karna itu bangsa Indonesia sekarang adalah turunan dari bangsa deutro melayu, prota melau, bangsa Melanesia dan bangsa primitive yang dulu mendiami nusantara.
Dan padasaat itu keadaan geografis Indonesia yang luas memaksa mereka untuk tinggal terpencar di seluruh wilayah nusantara yang sangat luas. Sehingga mereka hidup sacara terisolasi dari suku bangsa yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

http://fitrinuraenialhafidza.wordpress.com/2013/02/19/makalah-asal-usul-penyebaran-dan-pengaruh-nenek-moyang-bangsa-indonesia/
http://www.artikelsiana.com/2014/09/persebaran-nenek-moyang-bangsa-Indonesia.html#_
Mustafa Shodiq . 2006. Wawasan Sejarah 1 Indonesia dan Dunia. Solo : Tiga Serangkai
Mustopo Habib. 2007. Sejarah 1. Jakarta : Yudhistira

MAKALAH
ASAL-USUL NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA



Disusun Oleh :
Kelompok II

Kelas : X OTM B

Guru Pembimbing :

SMK
TAHUN PELAJARAN 2014/2015