Rabu, 24 Desember 2014

Bunga Bunga Rindu


Bunga-Bunga Rindu

Bahkan sampai detik ini pun masih kukunci rapat hatiku.
Hey kau yang disana.
Paham ngga sih aku rindu?
Aku hampa.

Kenapa kau selalu marah tiap aku bertanya?
Kenapa jawaban yang kau beri hanya membuatku luka?
Apa aku benar-benar sudah mati dihatimu?
Terus bagaimana dengan aku yang masih menyimpanmu di memori terdalam hatiku.


Aku tak mengerti semua ini.
Kenapa terus dan terus saja aku menunggumu.
Padahal sudah sangat jelas aku tak kau ingini.
Tapi, hatiku selalu tabah atas perlakuanmu.          

            Sore itu aku dan teman-temanku sedang asyik menikmati indahnya pemandangan di bawah rumpun bambu. Haris tiba-tiba menyatakan isi hatinya padaku.
“Mbak, apakah mbak mau jadi pacarku?”
“Ya” sambil malu-malu.
            Hari-hariku sangat indah bersamanya, hari pertama, kedua, bahkan sampai hari ketujuh telah kulalui.
            Keeseokan harinya aku dijemput oleh Adhi untuk ke rumahnya yang sedang ada acara. Tapi, karena kebodohanku yang dekat lagi dengan Adhi, Haris marah, ia tak mau bicara kepadaku. Sudah berbagai cara untuk aku meminta maaf padanya. Namun yang ada dia hanya diam.
            Berhari-hari ia tak ada kabar. SMS, telepon juga tak ada. Aku menangis bercerita dengan sahabat-sahabatku.
            “Bagaimana hubunganku ini.”
            “Kenapa?”
            “Haris marah padaku karena aku dekat dengan Adhi.”
            “Kamu harusnya mengerti perasaannya.”
            Berhari-hari berlalu, bahkan dua bulan sudah kujalani berhubungan dengannya. Tapi, aku tak kuat menahan keegoisan dan kekanak-kanakan dia. Aku bicara padanya bahwa “aku ingin putus.” Dengan kata-kata yang mudah ia menjawab, “Iya.” Itu sangat menyakitkan.
            Dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan, enam bulan, aku menyadari bahwa aku benar-benar menyayangi. Semua berlalu seperti biasa saja. Tapi, tak pernah terpikir olehku bahwa kita akan seperti ini. Aku pikir selamanya akan berada disini, disisiku. Selamanya aku bisa menatapmu. Apakah kamu tahu rasanya ketika seseorang yang sangat berarti tiba-tiba pergi dari hidupmu? Sedih, kecewa itu yang kudapat. Sudah pasti. Namun rasa sayangku masih lebih kuat untuknya.
            Terlalu lama aku mengekang semua emosi ini. Terlalu lama aku berselimut semua kenangan itu. Terlalu cepat kau meninggalkanku.
            Aku memberhentikan langkahku. Pikiranku seketika melayang, saat kau menyatakan itu dulu. “Mbak aku sayang banget sama kamu.” Memang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.
            Lalu, aku mengetahui bahwa kau tak akan pernah kembali. Mungkin aku terlalu egois karena tidak bisa melihat kenyataan ini karena selama ini yang aku tahu kebahagiaan itu adalah kamu.
            Aku sayang kamu dek. Aku mencoba dek, mencoba melepaskan semua ini. Tapi, tentu saja tidak mungkin melupakannya. Jadi biarlah seperti ini saja, kenanganmu, kenangan kita, tetap tinggal di satu sisi hati kecilku.
            Terkadang aku merasakan sesuatu dek, kerinduan. Rindu kamu, tapi, cerotanya sudah berakhir, aku ingin membuat cerita yang baru dengan tokoh yang berbeda, iya aku dan kamu yang lain.


Cerpen karangan         : Dewi Margiati