Jumat, 04 Desember 2015

Makalah Permasalahan Pendidikan di Indonesia



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat dan karunia sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.       Keberhasilan makalah ini tidak lain disertai referensi – referensi dan bantuan dari pihak yang bersangkutan. Namun makalah ini masih memiliki kekurangan dalam penyusunan makalah, maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan serta memenuhi nilai tugas Pendidikan Pancasila.
            Kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu dan terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

  
Nopember 2015


Penulis 


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................         i
KATA PENGANTAR ....................................................................................       ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................    iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang masalah.............................................................................        1
1.2  Rumusan Masalah......................................................................................        2
1.3  Tujuan dan manfaat Penulisan...................................................................        2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Permasalahan Pokok Pendidikan dan Penangulangannya..........................        3
2.2 Jenis Permasalahan Pokok Pendidikan ......................................................        3
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan.        9
2.4 Permasalahan Aktual Pendidikan dan Penanggulangannya.......................      11

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................      15
3.2 Saran...........................................................................................................      15

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Masalah
Indonesia semakin hari kualitasnya makin rendah. Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang.
Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya para guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya. Kelemahan paran pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan potensi parasiswa.
Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan.
Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Lebih parah lagi,pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Ini salahnya, kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah. Jadi, para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak pernah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, padahal lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas. Kualitas pendidikanIndonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan analisa dari badanpendidikan dunia (UNESCO), kualitas para guru Indonesia menempati peringkat terakhir dari 14 negara berkembang di Asia Pacifik. Posisi tersebut menempatkan negeri agraris ini dibawah Vietnam yang negaranya baru merdeka beberapa tahun lalu. Sedangkan untuk kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Lemahnya input quality, kualitas guru kita ada diperingkat 14 dari 14 negara berkembang. Ini juga kesalahan negara yang tidak serius untuk meningkatkan kualitaspendidikan. Dari sinilah penulis mencoba untuk membahas lebih dalam mengenai pendidikan di Indonesia dan segala dinamikanya.

1.2  Rumusan Masalah
Dari uraian di atas dilihat begitu kompleksnya permasalahan dalam pendidikan yang ada di Indonesia. Oleh karena itu Penulis membatasi beberapa masalah dalam penulisan makalah dengan “Masalah-masalah mendasar pendidikan di Indonesia, Kualitas pendidikan di Indonesia, dan Solusi Pendidikan di Indonesia”.

1.3.  Tujuan dan Manfaat Penulisan
1.   Tujuan
Sesuai dengan pembatasan masalah di atas, maka tujuan penulisan adalah untuk mengetahui masalah-masalah apa saja yang terjadi pada pendidikan di Indoensia yang dillihat dari kualitas pendidikannya semakin hari semakin menurun.
2.   Manfaat
Dari penulisan ini diharapkan mendatangkan manfaat berupa penambahan pengetahuan serta wawasan penulis kepada pembaca tentang keadaan pendidikan sekarang ini sehingga kita dapat mencari solusinya secara bersama agar pendidikan di masa yang akan dapat meningkat baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang diberikan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  Permasalahan Pendidikan Dan Penanggulagannya
Sistem pendidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya masyarakat sebagai supra-sistem. Pembangunan sistem pendidikan tidak memiliki arti apa-apa, jika tidak sinkron dengan pembangunan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem dengan sistem sosial. Budaya sebagai supra-sistem tersebut, dimana sistem pendidikan menjadi bagiannya,  menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalah interen sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya suatu permasalah interen dalam sistem pendidikan selalu ada kaitannya dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan dan ekonomi masyarakat disekitarnya, dari mana murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya di luar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar.
Berasarkan kenyataan tesebut, maka penanggulangan masalah  pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen antara pihak yang terkait.
Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yakni :
a.       Bagaimana semua warga negara dapat menikmati kesempatan pendidikan,
b.      Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun ke dalam kancah kehidupan masyarakat.
Yang pertama mengenai masalah pemerataan dan yang kedua adalah masalah mutu , relevansi dan juga efisiensi pendidikan.

2.2  Jenis Permasalahan Pokok Pendidikan
            Masalah pokok pendidikan yang telah menjadi keepakatan nasional yang perlu diprioroitaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud itu, adalah :
1. Masalah pemerataan pendidikan
2. Masalah mutu pendidikan
3. Masalah efisiensi pendidikan
4.  Masalah relevansi pendidikan.

1.  Masalah Pemerataam Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional , pendidikan diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas – luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.Masalah pemerataan pendidikan adalah masalah bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas – luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumberdaya manusia untuk menunjang pembangunan.
Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara, khususnya usia anak sekolah tidak dapat ditampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia.
Masalah pemerataan pendidikan di pandang penting karena jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis dan berhitung, sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia, baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat derap pembangunan.

A.     Pemecahan Permasalahan Pemerataan Pendidikan
Banyak macam masalah yang telah dan sedang dilaksanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah – langkah ditempuh melalui cara konvensional dan cara inovatif.
·        Cara konvensional, antara lain :
a.       Membangun gedung sekolah, seperti SD inpres dan atau ruang belajar,
b.      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian).
Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar adalah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat/keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.
·    Cara inovatif, antara lain :
a.  Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orangtua dan guru) atau INPACT (instructional management by parent, community and Teacher).Sistem tersebut dirintis di Solo dan didesiminasikan ke beberapa provinsi.
b. SD kecil pada daerah terpencil,
c.  Sistem Guru Kunjung,
d. SMP Terbuka ( ISOSA-In School out of School Aproach ),
e.  Kejar paket A dan B,
f.  Belajar Jarak jauh seperti Universitas terbuka.

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan, penetapan mutu hasil pendidikan, penetapan dilakukan oleh lembaga penghasil luaran, dengan sistem setifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun ke lapangan kerja penilaian  dilakukan oleh lembaga pemakai, sebagai konsumen tenaga kerja dengan sistem  tes untuk kerja ( performance test ). Lazimnya sesudah itu masih dilakukan pelatihan/pemagangan baik calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja di lapangan.
Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kwalitas luarannya. Jika tujuan oendidikan nasional dijadikan kriteria, maka pertanyaannya adalah: apakah luaran dari satu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertaqwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang sosial dan bertanggung jawab, warga negara yang cinta tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan sosial.
Dengan kata lain apakah luaran itu mewujudkan diri sebagai  manusia pembangunanyang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kwalitas luaran seperti itu, disebut Nurturant effect. Meskipun disadari  bahwa pada hakekatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil dari sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terdapat produk seperti  itu sistem pendidikan dianggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan adalah bahwa cara pengukuran mutu produk tidak mudah. Berhubung dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut, maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mengasosiasikan dengan hasil belajar yang dikenal sebagai EBTA, EBTANAS, UAS, SIPENMARU, karena ini yang mudah diukur. Hasil ujian tersebut itu dipandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.
Padahal hasil belajar  yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar  tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika terjadi belajar yang tidak optimal akan menghasilkan skor ujian yang baik, maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Ini berarti bahwa pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masa pemrosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemrosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri peserta didik, tenaga kependidikan,  kurikulum, sarana pembelajaran, bahkan juga masyarakat sekitar.
Seberapa besar dukungan tersebut diberikan oleh komponen pendidikan, sangat bergantung pada kualitas komponen  dan kerjasama serta mobilitas komponen yang mengarah kepada pencapaian tujuan. Sebagai misal komponen sarana pembelajaran lengkap, tetapi tidak didukung oleh guru-guru yang terampil, maka sumbangan sarana tersebut pada pencapaian tujuan tidak akan optimal. Tentang hal ini sudah dipaparkan secukupnya pada butir terdahulu, yaitu pada sistim pendidikan.
Mas lah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu. Di dalam TAP MPR 1988 tentang GBHN, dinyatakan bahwa titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada penimgkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan, sedangkan dalam rangka penimgkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu lebih disempurnakan dan ditingktkan pengajaran ilmu pengetahuan alam dan matematika,(BP-7, 1989). Umumnya kondisi mutu pendidikan di seluruh pelosok tanah air (kota/desa) mengalami peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing.
B.     Pemecahan Pemerataan Mutu Pendidikan
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen, sebagai berikut :
1. Seleksi yang lebih raional terhadap masakan mentah, khususnya SLTA dan PT.
2. Pengembang kemampuan tenaga kependidikan  melalui study lanjut.Latihan, penataran,seminar, kegiatan-kegiatan kelompok, studi seperti PKG dan lain-lain.
3. Penyempurnaan kurikulum (materi yang esensial) dan mengandung muatan lokal, metode yang menantang dan menggairahkan belajar,evaluasi yang beracuan PAP
4.  Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tentram untuk belajar, penyempurnaan sarana belajar ,seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorim,
5.  Peningkatan administrasi manajemen khususnya mengenai anggaran
6.  Kegiatan pengendalian mutu berupa kegiatan-kegiatan :
a.  Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan,
b.  Supervisi dan monitoring pendidikan oleh pemilik dan pengawas.
c.  Sistem ujian nasional /negara seperti UAN, EBTANAS, SIPENMARU.
d.  Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga.

2.  Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidkan. Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting,adalah:
a.       Masalah efisiensi dalam memungsikan tenaga
Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan dan pengembangan tenaga. Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stock tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang terbatas. Pada masa 5 tahun terakhir ini, jatah pengangkatan setiap tahunnya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga di lapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang setiap diangkat lebih besar dari pada kebtuhan dilapangan. Dengan demikian berarti lebihdari 80% tenaga tersedia tidak difungsikan. Masalah pengembangan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru.

b.  Masalah efisiensi dalam penggunaan sarana dan prasarana
Penggunaan sarana dan prasarana pendidikan yang tidak efisiensi bisa terjadi antara lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan juga karena perubahan kurikulum. Perubahan sering membawa akibat tidak dipakainyalagi buku siswa pegangan guru beserta perangkat lainnya, karena harus diganti dengan buku-buku yang baru. Misalnya perubahan kurikulum 1975/1976 digantikan dengan kurikulum 1984 bahkan sementara buku baru belum rampung disiapkan, kurikulum sudah berubah lagi yaitu dengan munculnya kurikulum 1994.sebab bagaimana pun juga pembaharuan kurikulum merupakan tindakan antisipasi terhadap pemberian bekal bagi calon iuran sesuai dengan tuntunan zaman.

3.  Masalah Relevansi Pendidikan
Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapatmenghasilkan iuran sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
Iuran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam sektor produksi, sektor jasa dll. Baik dari segi jumlah maupun segi kualitas. Kriteria relevansi seperti yang dinyatakan tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem tersebut pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang pekerjaan yang ada antara lain, sebagai berikut:
1.   Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya,
2.   Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan iuran siap pakai, yang ada adalah siap kembang/latih.
3.   Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun program tidak tersedia.
2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan pada butir B dan C di atas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung didalam sistem pendidikan sendiri. Masalah makro berupa antara lain masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi,sosial budaya, masalah perkembangan regional.
Uraian selanjutnya akan mengemukakan masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan masalah pendidikan, yaitu:
a.  Perkembangan iptek
Terdapat hubungan erat antara pendidikan dengan iptek. Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksploitasi sacera sistematis dan terorganisir mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi hidup masyarakat. Suatu teknologi baru digunkan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja atau jam kerja,kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai berkembangnya gaya hidup yang baru. Semua perubahan tersebut tentu membawa masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Hal ini sudah disinggung dalam butir 3 masalah efisiensi pendidikan tentang perubahan kurikulum.

b.  Perkembangan Seni
Kesenian adalah merupkan aktivitas berkreasi manusia secara individual atau kelompok menghasilkan sesuatu yang indah,Barksenian mejadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi( mencipta) yang bersifat orisinal (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Seni membutuhkan pengembangan.
Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai  adil yang besar, karena dapat mengisi pengembangan domain afektif khususnya emosi yang positif  dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kongnitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi lain.
Dilihat dari lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.

1.  Laju Pertumbuhan Penduduk.
Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a.   Pertambahan penduduk.
Pertambahan penduduk gambarannya sebagai berikut:
Dari sekarang hingga abad XXI, terus menerus akan terjadi pertambahan penduduk, meskipun gerakan keluaga berencana beberapa waktu yang lalu berhasil. Sebapnya karena kematian menurun lebih cepat (45%) dari turunnya tingkat kelahiran(35%). Hal tersebut juga mengakibatkan berubahnya susunan umur penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka penyeddian sarana dan prasarana pendidikan beserta  komponen penunjang  terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah. Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata,b penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya strutur kependudukan, yaitu propinsi penduduk usia lanjut,angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan dibidang gizi dan kesehatan.

b.  Penyebaran Penduduk.
Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata.Ada daerah yang padat penduduk terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang, yaitu didaerah pedalaman kh ususnya didaerah terpencil yang berlokasi pegunungan dan pulau-pulau. Sebaran penduduk ini   menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunnya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan didaerah terpencil pada pelita V, disamping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam penempatan guru. Peristiwa ini menimbulkan pola yang dinamis dan labil yang lebih menyulitkan perencanaan penyediaan saran pendidikan.

2.  Aspirasi masyarakat
Dalam dua dasawarsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai meihat bahwa untuk hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Sebagain akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan itu maka orangtua mendorong anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik daripada orangtuanya sendiri. Sehingga gejala yang timbul yaitu membanjirnya pelamr pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat.  Di kota-kota disamping pendidikan formalmulai bermunculan beraneka ragam pendidikan non-formal. Namun demikian tidak berarti bahwa aspirasi terhadap pendidikn harus diredam, justru sebaliknya harus tetap dibangkitkan dan ditingkatkan, utamanya pada masyarakat yang belum maju dan masyarakat diderah terpencil, sebab aspirasi menjadi motor penggeak roda kemajuan.


2.4 Permasalahan Aktual Pendidikan Dan Penanggulangannya
Pendidikan selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan hasil  vang dapat dicapai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan - kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk ditanggulangi.

Beberapa masarah aktual pendidikan yang akan dikemukakan meliputi masalah-rnasalah keutuhan pencapaian sasaran, kurikulum, peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan.

Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep.

Berikut ini masalah aktual tersebut akan dibahas satu persatu.
•  Masalah Keutuhan Pencapaian Sasaran
Di dalam undang-undang Nornor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 4 telah dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Banyak hambatan yang harus dihadapi dalam pelaksanaan system pendidikan antara lain :
  1. kurikulum sudah terlalu sarat.
  2. Pendidikan afektif sulit diprogramkan secara eksplisit karena dianggap
  3. menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi (hiden curriculum) yang keterlaksanaannya sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru.
  4. Pencapaian hasil pendidikan afektif rnemakan waktu, sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik.
  5. Menilai hasil pendidikan afektif tidak mudah. Bahkan kalau mau berhasil, juga membutuhkan biaya. Misal, jika PR ingin berdaya mendidik (ketekunan, kepercayaan diri, kejujuran kedisiplinan) maka harus diperiksa dengan saksama oleh guru dan hasilnya dikembalikan kepada siswa untuk dibicarakan Untuk itu perlu ada insentif bagi guru.

•  Masalah Kurikulum 
Pada bagian ini akan dibahas masalah aktual mengenai kurikulum Masalah kurikulum meliputi masalah konsep dan masalah pelaksanaannya. Yang menjadi sumber masalah ini  bagaimana system pendidikan dapat mernbekali peserta didik untuk terjun kelapangan kerja (bagi yang tidak melanjutkan sekolah) dan memberikan bekal dasar yang kuat untuk ke perguruan tinggi (bagi mereka yang ingin lanjut).


•   Masalah Peranan Guru
Konsep-konsep baru lahir sebagai cerminan humanisme yang memberikan arah baru pada pendidikan. sejalan dengan itu perkembangan iptek yang pesat menyumbangkan cara – cara baru yang lebih mantap terhadap pemecahan masalah pendidikan. dalam  realisasinya dipandu oleh kurikulum  yang telah disempurnakan. sejalan dengan itu maka guru sebagai suatu komponen system pendidikan juga harus berubah.

•   Masalah pendidikan 9 tahun
Keberadaan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI No 2 tahun 1989 Pasal 6 menyatakan tentang hak warga Negara untuk mengikuti pendidikan sekurang – kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP nomor 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar, pasal 2 menyatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujun pendidikan dasar yaitu memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih – lebih pada tahap awal sudah pasti banyak hambatannya, hambatan tersebut ialah :
  1. Realisasi pendidikan dasar yang diatur PP Nomor 28 Tahun 1989 masih harus dicarikan titik temunya dengan PP Nomor 65 Tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar, karena PP tersebut belum dicabut.
  2. Kurikulum yang belum siap.
  3. Pada masa transisi para pelaksana pendidikan di lapangan perlu disiapkan melalui bimbingan – bimbinga, penyuluhan, penataran dan lain – lain
•   Upaya Penanggulangan
Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk menanggulangi masalah - masalah actual antara lain sebagai berikut :
  1. Pendidikan afektif perlu ditingkatkan secara terprogram tidak cukup
  2. berlangsung hanya secara insidental.
  3. Pelaksanaan ko dan ekstrakurikuier dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan hasilnya diperhitungkan dalam menetapkan nilai akhir ataupun pelulusan.
  4. Pemilihan siswa atas kelompok yang akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi dengan yang akan terjun kemasyarakat merupakan hal yang prinsip karena pada dasarnya tidak semua siswa secara potensial mampu belajar di pergutuan tinggi.
  5. Pendidikan tenaga kependidikan perlu diberi perhatian khusus.
  6. Untuk pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun apalagi jika dikaitkan dengan gerakan wajib belajar, perlu diadakan penilitian secara meluas pada masyarakat untuk menemukan faktor penunjang dan utamanya factor penghambatnya
BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Banyak sekali faktor yang menjadikan rendahnya kualitaspendidikan di Indonesia. Faktor-faktor yang bersifat teknis diantaranya adalah rendahnya kualitas guru, rendahnya sarana fisik, mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan. Namun sebenarnya yang menjadi masalah mendasar dari pendidikan di Indonesia adalah sistempendidikan di Indonesia itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek, sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Maka disinilah dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan mesyarakat untuk mengatasi segala permasalahan pendidikan di Indonesia.

3.2.  Saran
Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

REFERENSI

http://forum.detik.com.
http://www.detiknews.com.
Pidarta, Prof. Dr. Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia.