Selasa, 15 Agustus 2017

MAKALAH AKIDAH AKHLAK FITNAH


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Tidak berlebihan jika dikatakan, umat Islam tidak mungkin dipisahkan dari sumber ajaran agamanya itu. Pada aspek mengkaji, al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang mendapatkan perhatian luar biasa dari komunias ilmuan, baik yang muslim maupun non muslim. Hal ini terbukti dengan lahirnya karya-karya tafsir al-Qur’an yang jumlahnya ribuan. Karya tafsir al-Qur’an masih terus mengalir hingga hari ini. Hal ini juga menjadi bukti bahwa tafsir al-Qur’an bukan dominasi orang-orang shaleh zaman dulu, seperti yang kita ketahui dalam sejarah penafsiran al-Qur’an.


Sejarah penafsiran al-Qur’an adalah Islam itu sendiri. Artinya perjalanan sejarah tafsir al-Qur’an sudah sama tuanya dengan sejarah perjalanan Islam sebagai agama, sehingga antara keduanya jadi identik dan tak terpisahkan. Aktifitas penafsiran sudah barang tentu dimulai semenjak Nabi Muhammad Saw. Menyampaikan risalah Tuhan yang datang dalam bentuk al-Qur’an. Sebagai pembawa risalah maka Nabi Muhammad harus faham dan mengerti terlebih dahulu atas pesan wahyu yang harus disampaikan kepada umatnya ketika sasaran wahyu (umat) menghadapi kesulitan tertentu dalam memahami teks wahyu. Jadi, tugas penasiran merupakan bagian integral dari tugas risalah.

Keragaman tafsir sekurang-kurangnya disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: pertama, factor kebahasaan. Di dalam al-Qur’an akan ditemukan kata-kata yang memiliki makna (lafadz) ganda, makna umum, makna khusus, makna sulit (musykil) dan sebagainya. Kedua, factor ideology poitik, ketiga, factor madzhab pemikiran dan yang keempat adalah subyektifisme mufasir, yakni adanya pra-anggapan, pra-asumsi, jenis kelamin, latar pendidikan dan lingkungan mufasir yang turut mewarnai langgam tafsir yang disusun.
Terhadap keempat faktor di atas, tak ada seorngpun yang mengingkarinya. Oleh karena itu, paparan di atas makin menegaskan bahwa tafsir merupakan dialog terus-menerus antara teks suci, penafsiran dan lingkugan sosial-politik-budaya yang ada di sekitarnya. Tafsir ini tercipta pada ruang dan waktu yang berbeda-beda yang mengakibatkan munculnya pemaknaan atas satu teks berbeda dengan yang lainnya. Makalah ini menyajikan sebuah penafsiran yang mengulas tentang lafadz “fitnah” dalam al-Qur’an. Fitnah mempunyai bermacam-macam makna yang berbeda, sehingga pembahasan ini dirasa perlu untuk mengetahui derivasi makna fitnah yang digunakan dalam al-Qur’an. Dalam pembahasan ini lebih banyak mengambil penafsiran al-Razi, karena dirasa telah memberikan penafsiran yang mumpuni dan dapat dijadikan sebagai pijakan dalam memahami suatu lafadz dalam al-Qur’an. Meskipun dalam makalah ini hanya mengulas satu tafsir lafadz fitnah, namun setidaknya lewat kajian ini akan merangsang pembaca untuk mencermati dan mengkaji tafsir-tafsir lafadz lain yang beragam jenisnya.

B.    RumusanMasalah
1.      Apa yang dimaksud dengan fitnah itu ?
2.      Pendapat para ulama tentang Fitnah ?
3.      Fitnah pertama ?
4.      Apa saja contoh dan dampak negative fitnah?
5.      Apa saja macam-macam dari fitnah?
6.      Apa penyebab dari timbulnya fitnah?
7.      Bagaimana upaya mencegah perbuatan fitnah?
8.      Bagaimana tinjauan masa kini tentang Fitnah ?

C.     Tujuan
1.      Menjelaskan pengertian tentang fitnah.
2.      Mengetahui pendapat para ulama tentang Fitnah.
3.      Mengetahui Fitnah pertama yang terjadi.
4.      Menjelaskan contoh dan dampak negative fitnah.
5.      Menjelaskan macam-macam dari fitnah.
6.      Menjelaskan penyebab timbulnya fitnah.
7.      Menjelaskan upaya mencegah perbuatan fitnah.
8.      Mengetahui tinjauan masa kini tentang Fitnah.




























BAB II
PEMBAHASAN

A.      Dalil Tentang Fitnah
II.      يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah 217)
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيم
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. ” (Q.S. An-Nur 24:11)




B.Pendapat Para Ulama tentang Fitnah
Makna satu kata, Fitnah
Seringkali para juru dakwah menyebut-nyebut kata fitnah, dalam berbagai bahasan. Seringkali pula mereka beranggapan bahwa masyarakat Indonesia sudah begitu akrab dengan kata tersebut, sehingga mereka pasti paham. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Berbagai realitas -termasuk yang saya dengar-, menunjukkan bahwa ada kesalahpahaman besar seputar pemaknaan kata tersebut, di tengah masyarakat kita, saat kata itu disebutkan oleh seorang juru dakwah. Pasalnya, kata tersebut berbeda makna dalam bahasa kita, Indonesia, dibandingkan makna kata itu di dalam bahasa Arab. Sementara kerap disampaikan para juru dakwah adalah makna kata itu dalam bahasa Arab.
Dalam bahasa Indonesia, kata fitnah, seperti disebutkan dalam banyak kamus bahasa Indonesia adalah: menuduh tanpa bukti. Dalam bahasa Arab, kata itu berarti buhtaan. Seperti disebutkan dalam hadits tentnag ghibah, yang kesohor itu.
Sehingga, ketika seorang juru dakwah mengatakan, “seorang pria muslim tidak boleh berduaan dengan seorang wanita muslimah yang bukan muhrimnya, karena dikhawatirkan terjadi fitnah….” kebanyakan masyarakat Indonesia akan memahaminya.’…..khawatir mereka berdua akan difitnah. Yakni, dituduh berbuat mesum dan sejenisnya.’ Padahal yang dimaksud juru dakwah tersebut,’….khawatir akan terjadi bencana. Yakni bencana maksiat, mulai dari yang paling ringan, hingga perzinaan.’

C.  Fitnah
1.    Pengertian Fitnah
Fitnah dalam bahasa Arab disebut  الفتنة, Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, kata Fitnah diartikan sebagai perkataan yang bermaksud menjelekkan orang. Fitnah yaitu komunikasi dengan satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan berdasarkan fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa atau reputasi. Fitnah juga diartikan sebagai Kekufuran seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqoroh:217, dan Kesesatan seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Maidah: 41.
Maksud Fitnah
Kata "fitnah" asalnya diserap daripada bahasa Arab, dan pengertian asalnya adalah "cobaan" atau "ujian". Maksud dan pengertian fitnah jika diselak lebar al-Quran dan hadis adalah sebagaimana berikut.

A.    Kufur/Kafir
Friman Allah Subhanahu Wata’ala yang bermkasud:
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah . Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh…” (Al Baqarah: 217)
Firman-Nya lagi yang bermaksud:
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 193)
Kata fitnah dalam ayat ini menurut para ulama tafsir adalah bermaksud ‘kekafiran’ atau ‘kemusyrikan’. Iaitu bahawa mereka itu menyebarkan kekafiran.

B.     Bencana
Sabda nabi Sallallhu alaihi Wasallam yang bermaksud:
“Apabila datang (meminang) kepada kamu seorang pemuda yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kahwinkanlah dia dengan anak perempuan mu. Dikhuatiri akan terjadi fitnah (bencana) dan kerosakan yang besar di muka bumi.”
Perkataan fitnah dalah hadis ini memberikan maksud bencana atau musibah yang akan berlaku sekiranya perkahwinan ditangguhkan. Ini kerana syarat pemuda soleh itu adalah sebaik-baik pilihan untuk dijadikan suami kepada anak-anak perempuan.


C.    Konflik
Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang bermaksud:
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mu-tasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah…” (Ali Imran: 7)
Terdapat sebagian orang Islam yang hanya menggunakan semata-mata penilaian mengikut aspek rasional. Sengaja mencari penafsiran ayat melalui pendekatan logika akal manusia yang terbatas semata-mata, sehingga melencong dari tafsiran yang tepat. Tujuan mereka semata-mata menyebar fitnah, iaitu mencari konflik dan perselisihan dengan sesama muslim.
Inilah penjelasan kepada ayat ini yang dengan jelas menyebut perkatan fitnah. Ia bermaksud menimbulkan konflik dan kekeliruan dalam masyarakat. Ia juga disebut sebagai propaganda.

D.    Tipu
Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang bermaksud :
“Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah” (Al An’am: 23)
Fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah ucapan tipu dan dusta, untuk membela diri mereka di hadapan Allah. Padahal Allah mengetahui hakikat mereka, dan apa yang tersembunyi dalam hati mereka.

E.     Binasa
Firman Allah Subhanahu Wata’ala: yang bermaksud:
“Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah . Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir” (At Taubah: 49)
Dalam ayat ini kaum munafik di masa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam enggan menyertai peperangangan kerana menganggap itu adalah suatu kebinasaan (fitnah). Padahal sesungguhnya mereka telah berada dalam kebinasaan dengan sifat munafik. Iaitu kebinasaan diri mereka di akhirat kelak dengan balasan neraka yang paling bawah.

F.     Gangguan
Firman Allah Subhanahu Wata’ala: yang bermaksud:
“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah (gangguan) manusia itu sebagai azab Allah . Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah bersamamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Al Ankabut: 10)
Dalam ayat ini, kata fitnah membawa maksud ganguan. Inilah sifat biasa manusia yang menganggap ujian Allah dalam bentuk gangguan manusia sebagai azab.

2.    Sifat dan Karakteristik
Inilah gambaran orang yang suka memfitnah (mengadu domba) :Pengecut dan curang. Orang yang suka memfitnah tidak mampu bersaing secara sehat.
·         Pendusta. Dusta/bohong menjadi menu utama dalam aksinya untuk memfitnah dan mengadu domba orang lain.
·         Hidup dan kehidupannya dihantui oleh prasangka buruk.
·         Suka memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Dia asyik sekali membongkar rahasia, keburukan dan kebusukan seseorang, ketika orang itu tidak ada. Dan ketika orang itu datang, maka pembicaraan pun berhenti dengan sendirinya, kemudian berganti dengan memuji dan menyanjung. Ini adalah perbuatan hina dan jijik.
·          Iri, dengki dan sombong selalu menempel di hatinya, bahkan menjadi darah daging. Ketika dia merasa gagal, iri dan dengki yang muncul. Namun, ketika memperoleh kesuksesan, dia sombong dan hidup melampaui batas.
·         Hubbuddunya (lebih cinta kepada gemerlap duniawi daripada cinta kepada Allah)
·         Aqidahnya telah rusak, karena lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Dia rela memfitnah dan mengadu domba orang lain agar posisi dan jabatannya aman. Yang terpenting baginya adalah uang dan jabatan. Dengan kata lain, orang yang suka mengadu domba adalah penjilat bermuka dua.
·         Kufur ni'mat. Orang yang suka memfitnah adalah orang yang tidak bersyukur atas ni'mat Allah. Karena akal, hati dan raganya digunakan untuk merugikan orang lain.
·         Menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi. Hatinya terdorong untuk mengeruk keuntungan dengan jalan pintas. Bahkan tega mengorbankan sahabat dan kelompok seperjuangan.
·         Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba berpotensi menjadi pengkhianat.

3.   Menghindari Akhlak Tercela (Fitnah)
Untuk menghindari fitnah ada beberapa tips yang perlu diperhatikan.
1)      Jangan reaktif, jangan merespon dengan cepat berita-berita yang masih berkategori “katanya...”. Reaktif tidak diperlukan dan tidak akan menyelesaikan masalah. Karena sikap reaktif cenderung lebih tergesa-gesa. Ada ungkapan al khabar kal ghabar (berita itu seperti debu) melayang ke mana-mana dan tidak bertuan.
2)      Pastikan bahwa berita itu ada pembawanya. Sumber berita adalah penentu kebenaran berita itu sendiri, terkadang berita dari satu tempat ke tempat lain sudah tidak akurat dan banyak dibumbuhi atau di sisipi berita lain.
3)      Tabayyun. Perjelas lagi berita itu kepada sumber aslinya. Inilah yang di ingatkan oleh QS: al Hujurat:6
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ.
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
4)      Jika memang apa yang diberitakan itu benar terjadi tetapi tidak kita inginkan selesaikan dengan cara dewasa dan penuh kesadaran serta kasih sayang antar sesama.
Apa yang dapat kita lakukan sebagai upaya membentengi hati dari fitnah (adu domba) dan memeranginya :
1)      Mulailah segala aktivitas dengan niat yang benar, yang baik dan tulus hanya untuk mendapatkan ridho Allah.
2)      Mintalah ridho dan restu orangtua, mintalah kepada orangtua untuk mendoakan agar kita selamat.
3)      Berpikir positif (husnuzhon). Jangan memandang / menilai seseorang dari sisi negatifnya. saja.
4)      Perbanyaklah mengingat Allah (zikrullah), karena zikir kepada Allah dapat melembutkan hati dan menyehatkan akal.
5)      Hati-hati dalam berbicara, bertindak dan dalam menerima informasi/berita. Gunakan akal sehat dan hati yang sholeh untuk menganalisa dan menemukan kebenaran dari setiap informasi/berita. Jangan lupa untuk memohon petunjuk dari Allah dengan sholat istikhoroh.
6)      Hati-hati terhadap kesenangan dunia, jabatan dan kedudukan.
7)      Hati-hati dalam mengemban amanah. Laksanakan amanah dengan mengedepankan kejujuran dan penuh tanggungjawab.
8)      Jika cinta Islam, maka ikuti aturan Islam. Perdalamlah ilmu agama dengan rajin mengikuti majelis ilmu atau pengajian dan mengamalkan ajaran Islam dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.
9)      Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Jangan pernah membenci manusia, karena benci kepada ciptaan Allah berarti benci kepada Allah. Bencilah kepada perilakunya yang negatif. Selalu mengajak sahabat-sahabat kita untuk berbuat baik dan mengingatkannya jika berbuat kemunkaran dan maksiat.
10)  Senantiasa bersyukur kepada Allah. Rajinlah bershodaqoh kepada fakir miskin dan anak yatim, sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah.

4.   Nilai Negatif dari Fitnah
Keutuhan masyarakat tercipta apabila anggota-anggotaynya saling mempercayai dan kasih-mengasihi. Ini mengharuskan masing-masing anggota mengenal yang lain sebagai manusia yang baik, bahkan menganggapnya tidak memiliki keburukan. Dengan menggunjing, keburukan orang lain ditonjlkan, rasa percaya dari kasih itu sirna. Ketika itu benih perpecahan tertanam. Menggunjing apalagi memfitnah seseorang , berarti merusak keutuhan masyarakat satu demi satu, sehingga pada akhirnya meruntuhkan bangunan masyarakat.
Orang yang memfitnah dan menggunjing berarti menunjukkan kelemahan dan kemiskinannya sendiri. Seandainya kuat dalam argumentasi, tentu tidak perlu mengada-ada. Apabila tidak miskin dalam pengetahuan, mestinya tidak perlu menjadikan keburukan orang seagai bahan pembicaraan, masih banyak bahan pembicaraan yang lain.
Suatu ketika Nabi Isa as., bersama murid-muridnya menemukan bangkai binatang yang telah membusuk. Para murid beliau berkata,”Alangkah busuk bau bangkai ini.” Mendengar hal itu, Nabi isa as., mengarahkan mereka sambil berkata, “Lihatlah betapa putih giginya.” Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang harus melihat isi positif pada suatu yang negatif dan berusaha menemukan kebaikan dalam suatu yang terliht buruk.
Selain itu, apabila yang kita tuduhkan itu salah dan tidak terbukti, maka kita akan menjadi orang yang dibenci masyarakat, sungguh merugikan. Naudzubillah.







BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Fitnah merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Karena dampak yang ditimbulkan selalu negatif, tidak akan pernah positif. Luka yang digoreskan/ditusukkan oleh fitnah lebih tajam daripada pedang. Kehancuran akibat fitnah lebih dahsyat daripada bombardir senjata rudal. Fitnah dapat merusak tali silaturahim, merusak persatuan dan kesatuan, merugikan/mencelakakan/menyengsarakan orang lain, bahkan dapat menghancurkan Islam, mengotori perjuangan.

Jadi, Fitnah dan adu domba merupakan bentuk kezholiman, yang ditegakkan atas tiga perkara yaitu berpondasi pada kedustaan, kedengkian sebagai alasnya dan kemunafikan sebagai atapnya. Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba berjalan dengan baju kesombongan, mengikuti kehendak hawa nafsu dan bujukan syetan. Otaknya dikotori dengan prasangka buruk. Hatinya beku, sulit menerima kebenaran, merasa dirinya paling benar dan paling berjasa sehingga merasa tidak enak dan cemburu ketika orang lain mendapat kesuksesan. Kebahagiannya di atas penderitaan orang lain. Kehidupannya terlena dengan tipu daya syetan. Aqidah dan idealismenya dijual hanya untuk memperoleh kesenangan dunia. Ingatlah, Rasulullah SAW bersabda, "Aku tidak khawatir kalian miskin, tetapi aku khawatir (kalian mendapatkan) dunia (lalu) kalian bersaing dalam urusan dunia itu." (HR. Ahmad)
Kita harus waspada dan hati-hati terhadap fitnah dan adu domba, juga terhadap orang yang suka memfitnah dan mengadu domba. Karena mereka tergolong orang yang munafik, kufur ni'mat dan berpotensi menjadi pengkhianat.


Jadi, untuk mengatasi hal yang sering terjadi tersebut, kita harus mempunyai sifat transparansi agar orang lain tidak mudah curiga dengan kita. Selain itu, jangan terlalu menghiraukan fitnah itu sampai ada bukti yang memang jelas adanya.




























DAFTAR PUSTAKA


[1]‘Aunul Ma’bud,  11/347.
[2]Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 15/44.
[3]Shahih Muslim, kitab Iman,  bab ke65, hadits no. 231, dan lafazhnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/386.
[4](al Musawi, A Syarafuddin. 2001. “Dialog Sunnah-Syi'ah: Surat Menyurat Antara Rektor Al-Azhar di Kairo Mesir dan Seorang Ulama Besar Syi'ah (terj: Muhammad al Baqir)”. Mizan. Bandung hlm 377-386). (Jafri, S.H.M.1979. “The Origins and Early Development of Shi'a Islam”. Longman and Librairie du Liban. Beirut hlm 27-57).
[5](Kamara, M Ibrahim (ed) dkk. 2001. “Biographies of the Rightly-Guided Caliphs”. Dar al Manarah. Egypt hlm 132-135); perspektif lain dikemukakan dalam (Jafri, S.H.M. Op cit hlm 63-66).