Selasa, 15 Agustus 2017

MAKALAH KESULTANAN-KESULTANAN MARITIM MASA ISLAM DI NUSANTARA

MAKALAH


KESULTANAN-KESULTANAN MARITIM MASA
 ISLAM DI  NUSANTARA

Disusun Oleh:
1.     Komar
2.     Ahmad Robet Yolangga
3.     Mirlin Vironica
4.     Selvia Siska Dewi
5.     Rida Sartika
6.     Yopi Rosa Lena
7.     Selvy Apriani

Kelas : XI IPS 1

Guru Pembimbing :

SMA
TAHUN PELAJARAN  2017/2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkatrahmat dan hidayahnya akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul ‘Kesultanan-kesultanan Maritim Masa Islam di  Nusantara’


Berdasarkan sumber-sumber yang kami dapat dari luar maupun dari dalam, walaupun masih banyak kekurangan. Makalah ini dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai sejarah masuknya islam ke Indonesia, juga memberikan penjelasan yang jelas mengenai proses masuknya islam ke Indonesia serta menjelaskan islam pada masa yang akan datang.

Diharapkan bahwa makalah ini membantu pembaca untuk memahami dengan lebih baik tentang sejarah masuknya islam ke indonesia. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, disebabkan karena terbatasnya kemampuan kami, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami perlukan dari pembaca terutama dari Bapak Guru pembimbing  kami. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.
 , Juli 2017
 
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
BAB I PEMBAHASAN
2.1 Masuk dan Berkembangnya di Nusantara............................................. 2
2.2 Kesultanan Maritim Nusantara Masa Islam........................................... 5
2.3 Warisan Kesultanan Islam dalam Kehidupan Masa Kini....................... 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 13


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.
            Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.


1.2  Tujuan
Makalah ini mempunyai tujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai proses perkembangan islam di Indonesia bagi para pembaca. Disamping itu, makalah ini juga bertujuan untuk memberikan informasi kepada para pembaca bahwa kami menjelaskan sejarah perkembangan islam dan perkembangan pada masa yang akan datangnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Masuk dan Berkembangnya di Nusantara
Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, karena di mass media mungkin Anda sudah sering mendengar atau membaca bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama Islam terbesar di dunia.Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskan ke daerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam. Mengenai kapan Islam masuk ke Indonesia dan siapa pembawanya terdapat beberapa teori yang mendukungnya.
Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islamdi Indonesia.
Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia.Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh dari teori-teori tersebut, silahkan Anda simak uraian materi berikut ini.
Teori Gujarat
Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan
pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
a. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran
Islam di Indonesia.
b. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay – Timur Tengah – Eropa.
c. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang
bercorak khas Gujarat.
Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard
H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya
pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.
Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah
singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah
banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang
menyebarkan ajaran Islam.
Demikianlah penjelasan tentang teori Gujarat. Silahkan Anda simak teori berikutnya.
Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat.
Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah
mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan
berita Cina.
b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh
mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan
Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal
dari Mesir.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli
yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik
Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang
berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham simak
teori berikutnya.
Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya
berasal dari Persia (Iran).
Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam
Indonesia seperti:
a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein
cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di
Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut.
Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
b. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu
Al – Hallaj.
c. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda
bunyi Harakat.
d. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
e. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama
salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein
Jayadiningrat.
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).
Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dari
peranan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati.
Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali
yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari:
1.Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islam di Jawa Timur.
2.Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.
3.Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).
4.Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.
5.Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik)
6.Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus.
7.Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak.
8.Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.
9.Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat (Cirebon) Demikian sembilan wali yang sangat terkenal di pulau Jawa, Masyarakat Jawa
sebagian memandang para wali memiliki kesempurnaan hidup dan selalu dekat
dengan Allah, sehingga dikenal dengan sebutan Waliullah yang artinya orang yang
dikasihi Allah.

2.2 Kesultanan Maritim Nusantara Masa Islam
ada zaman kerajaan–kerajaan di Nusantara dan zaman sebelumnya, kehidupan masyarakat pada dasarnya bertumpu pada pertanian dan kegiatan yang bersifat agraris. Beberapa komoditas yang dihasilkan di Nusantara antara lain kapur barus, merica, pala, cengkeh, nila, mur, borax, kesturi, dan emas. Produksi komoditas ini tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Maluku dan Papua (Nugroho, 2010). Masyarakat Indonesia pada masa itu kemudian memanfaatkan laut untuk mengangkut berbagai hasil bumi ini ke wilayah Nusantara lainnya ataupun ke India, Afrika, dan Cina.
Beberapa penemuan di beberapa negara di Asia dan Afrika menunjukkan adanya peninggalan dari masyarakat Nusantara yang diperkirakan sudah berumur ribuan tahun. Peninggalan arkeologi ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia saat itu sudah memiliki ilmu dan teknologi perkapalan serta navigasi yang baik sehingga mampu menyeberangi Samudera Hindia hingga ke Semenanjung India bahkan sampai ke Timur Tengah dan Afrika. Hal ini menunjukkan masyarakat Nusantara saat itu sudah mampu mengintegrasikan pengelolaan wilayah darat, pesisir, dan laut sehingga aktivitas di ketiga wilayah dapat saling mendukung satu sama lainnya.
Beberapa kerajaan Nusantara dengan kultur peradaban maritim antara lain Kerajaan Kutai (abad ke-4), Sriwijaya (tahun 600an-1000an), Majapahit (1293-1500), Ternate (1257-sekarang), Samudera Pasai (1267-1521), dan Demak (1475-1548). Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit tercatat sebagai kerajaan-kerajaan Nusantara yang pada zaman keemasannya menjadi adidaya karena karakter kemaritiman yang tertanam pada masyarakat.
Pada kuartal ketiga abad ke-12, seorang penulis Cina mengatakan, “Dari semua kerajaan asing yang kaya raya sekaligus memiliki simpanan barang-barang berharga dan banyak macamnya, tidak ada yang melebihi bangsa Ta-Shih (Arab). Posisi kedua ditempati oleh She-p’o (Jawa/Majapahit), sementara San-fo-chi (Sriwijaya) di tempat ketiga. Marco Polo, seorang pedagang dan penjelajah Italia juga menyatakan tentang Nusantara, “Jumlah emas yang dikumpulkan di sana lebih banyak daripada yang dapat dihitung dan hampir tak dapat dipercaya. Kemudian, dari tempat itulah para pedagang dari Zai-tun (Hangzhou, Cina) dan Manji mengimpor logam mulia, yang menurut ukuran impor masa kini, jumlahnya sangat besar.” (Nugroho,2010).
Sejak Kerajaan Kutai, masyarakat Indonesia sudah memanfaatkan laut untuk aktivitas perdagangan dan pelayaran. Dengan teknologi yang ada saat itu, para penduduk melakukan kegiatan niaga antar pulau, kerajaan, bahkan berlayar hingga pulau yang jauh seperti Sri Lanka dan Madagaskar. Kultur bahari dan maritim ini kemudian terlihat juga dalam aktivitas kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya. Kerajaan Sriwijaya di zaman keemasannya memiliki pelabuhan internasional yang besar dan menguasai perdagangan dan pelayaran di wilayah barat Indonesia hingga Semenanjung Malaya.
Berbeda dengan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Sunda di wilayah Jawa Barat dan Banten saat itu tidak memiliki kultur bahari dan maritim yang kuat. Masyarakat di kerajaan ini umumnya melakukan aktivitas pertanian sebagai mata pencahariannya. Hal ini dikarenakan kuatnya armada maritim Kerajaan Sriwijaya saat itu yang kemudian secara berangsur-angsur diambil-alih oleh kekuatan maritim Kerajaan Majapahit.
Kerajaan Majapahit menjadi pusat kerajaan maritim Nusantara yang berperan melindungi jalur perdagangan laut sebagai jalur utama perdagangan dan menghilangkan ancaman jalur laut di sepanjang wilayah laut Nusantara hingga kawasan di sekitarnya. Armada laut Majapahit sangat besar di masa itu. C.R. Boxer, profesor sejarah dari Inggris mencatat total jumlah kapal yang dimiliki VOC pada tahun 1650, 1674, dan 1704 sebanyak 74 kapal, 124 kapal, dan 81 kapal. Kapal ini dibutuhkan untuk memonopoli komoditas internasional di Nusantara.
Kerajaan Ternate yang terdapat di wilayah Maluku Utara saat ini memiliki sumber daya rempah-rempah yang dikenal mancanegara hingga ke Benua Eropa. Untuk mendukung aktivitas perdagangan rempah-rempahnya, Kerajaan Ternate membangun pelabuhan dan galangan kapal di beberapa pulau utamanya. Terdapat juga pelabuhan pendukung di beberapa pulau kecil yang bertujuan untuk membawa hasil bumi dari pulau-pulau kecil ini ke pelabuhan utama.
Aktivitas perdagangan dan pelayaran Kerajaan Ternate serta kerajaan-kerajaan lain di Nusantara pada abad 11 hingga abad 14 terintegrasi dengan aktivitas maritim Kerajaan Majapahit. Terjalin hubungan yang baik dan perjanjian di antara kerajaan-kerajaan ini dimana Kerajaan Majapahit dipercaya untuk melindungi dan mengontrol jalur perdagangan dan pelayaran yang ada di wilayah Nusantara.
Besarnya armada Majapahit memudahkan untuk mengontrol pelabuhan-pelabuhan yang mengganggu aktivitas bisnisnya. Majapahit membutuhkan armada agar mampu untuk membeli dan menjual komoditas utama perdagangan dunia dalam partai besar, melarang negara lain membuat armada besar, mengatur seluruh perdagangan laut dalam kontrol Majapahit, dan menjaga mitranya agar tidak langsung berhubungan dengan produsen.
Kerajaan Samudera Pasai yang berada di ujung barat Nusantara memiliki peranan yang penting sebagai bandar pelabuhan kapal-kapal yang hendak menuju Nusantara ataupun sebaliknya. Peranan penting ini terutama terjadi karena menurunnya kekuatan maritim Kerajaan Sriwijaya yang juga terdapat di wilayah Sumatera. Namun aktivitas maritim Kerajaan Samudera Pasai masih berada di bayang-bayang Kerajaan Majapahit yang saat itu merupakan kerajaan maritim Nusantara terbesar. Sejak merosotnya kekuatan Kerajaan Majapahit karena konflik internal dan eksternal, Kerajaan Samudera Pasai membuat kebijakan maritim sendiri dan tidak lagi bergantung kepada Kerajaan Majapahit. Kerajaan Samudera Pasai menguasai aktivitas perdagangan dan pelayaran di Selat Malaka hingga tahun 1521.
Kerajaan Majapahit tidak memonopoli sendiri penguasaan pelabuhan yang ada di setiap daerah Nusantara. Pelabuhan yang ada di setiap daerah Nusantara dikelola oleh kerajaan masing-masing dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung untuk memperlancar perdagangan antar kerajaan dan daerah. Setiap kerajaan saling bekerjasama dalam melakukan aktivitas perdagangan dan pelayaran. Kerjasama ini juga dilakukan ketika terdapat ancaman dari luar Nusantara yang hendak menyerang salah satu kerajaan di Nusantara. Kerjasama yang baik di antara kerajaan-kerajaan ini yang membuat aktivitas perdagangan dan pelayaran masyarakat Nusantara saat itu bisa kuat dan disegani mancanegara.

2.3 Warisan Kesultanan Islam dalam Kehidupan Masa Kini
Islam masuk ke Indonesia terbukti dengan adanya peninggalan sejarah masa kerajaan pada abad ke 13. Bukan merupakan kebetulan apabila di berbagai penjuru tanah air kini kita saksikan beragam bentuk dan corak peninggalan sejarah Islam. Ada cerita sejarah teramat panjang di balik keunikan peninggalan sejarah tersebut.
iap-tiap peninggalan sejarah Islam tersebut melukiskan bagaimana kehidupan bangsa kita sejak berabad silam hingga masa kontemporer. Di dalam bentuk peninggalan sejarah Islam di Indonesia, terdapat sumber ilmu pengetahuan yang sangat kaya.

Bagi generasi penerus bangsa dan negara, Peninggalan Sejarah Islam di Indonesia bisa di jadikan cermin bagaimana tahap kehidupan bangsa pada masa itu. Nah, apa saja peninggalan sejarah Islam di Indonesia? berikut kami sajikan 8 corak peninggalan sejarah Islam di Indonesia.
Proses berkembangnya Agama Islam di Indonesiameninggalkan telah mempengaruhi corak dan kebudayaanIndonesia asli. Percampuran unsur-unsur budaya antara budayaIslam dan budaya asli Indonesia melahirkan akulturasi kebudayaan.Perwujudan akukturasi kebudayaan itu dalam bentuk senibangunan dan arsitektur, seperti mesjid, keraton, nisan makam,seni tulis indah atau kaligrafi, dan seni sastra.

a. Mesjid
Dalam seni bangunan wujud akulturasi budaya Islam danbudaya tradisional Indoneesia
yang paling menonjol ada padabangunan mesjid. Bagi pemeluk Agama Islam, mesjidmerupakan tempat suci bagi umat Islam untuk melakukanperibadatan. Mesjid yang ada di Indonesia memiliki ciri-ciriarsitektur yang berbeda dengan mesjid-mesjid di negara lain.

Mesjid-mesjid kuno yang ada di Indonesia mempunyai ciri khasperpaduan budaya Islam dan tradisional.Ciri khasnya adalah pada atapnya yangbertingkat lebih dari satu (atap tumpang),biasanya sampai tiga tingkat. Atap tumpangini menurut ahli sejarah merupakanperpaduan unsur budaya tradisional, budayaHindu dan budaya Islam. Bangunannyaberbentuk bujur sangkar, ada serambi dibagian samping dan belakang. Memilikifondasi yang kokoh, terdapat mihrab atautempat khotbah imam/tempat berdakwahdalam masjid. Terdapat kolam air untukmenyucikan tubuh (wudhu) sebelummelakukan ibadah.

b. Keraton
Bangunan pusat kerajaan atau kesultanan, tempat rajamenetap. Pada masa Islam di Indonesia, keraton berperanpenting baik sebagai pusat kekuasaan politik, juga berfungsisebagai pusat penyebaran Agama Islam. Keraton atau istanayang dibangun pada masa Islam berorak khas perpaduan unsurunsurarsitektur tradisional, budaya Hindu-Buddha dan budayaIslam.

Pada atapnya yang tumpang dan pintu masuk keraton yangberbentuk gapura. Letak keraton biasanya dihubungkan dengankepercayaan masyarakat, selalu menghadap ke arah utara, disebelah barat ada mesjid, dan sebelah timur ada pasar, sebelahselatan alun-alun. Tata ruang seperti merupakan tradisimasyarakat pra sejarah Indonesia yang disebut macapat. Dilapangan luas keraton terdapat pohon beringin besar.

c. Makam
Makam adalah tempat peristirahatan yang terakhir danabadi sehingga pembuatannya
selalu diusahakan untuk menjadiperumahan yang sesuai dengan orang yang dikuburnya. Makampara sultan atau raja dan tokoh Agama dibangun sepertilayaknya sebuah istana. Pada umumnya makam di kerajaandibangun di lereng sebuah bukit, seperti komplek pemakam rajarajaketurunan Mataram di Imogiri Yogyakarta

Dalam kepercayaan masyarakat pra sejarah Indonesia.Komplek pemakaman ditempatkan di atas bukit atau lereng.Pada komplek makam raja di Imogiri Yogyakarta berada di atas sebuah bukit. Makam tertua di Indonesia adalahmakam Fatimah binti Maimun yanglebih dikenal dengan putri Suwari diLeran Gresik bertahun 1082. Makam inimirip candi. Makam lainnya, sepertiMakam Syeikh Maulana Malik Ibrahim

d. Kaligrafi
Kaligrafi adalah seni tulisan indah dengan mengunakanbahasa Arab. Kaligrafi mulai berkembang pada abad ke-16, senitulis indah dalam bahasa Arab dipahatkan pada sebuah batuatau kayu. Kalimat yang diambil biasanya dari ayat-ayat suciAl-Qur'an dan Hadits. Motif kaligrafi biasanya berbentuktumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan, pemandangan alam atauhanya garis-garis geometris saja. Seni kaligrafi Islam ini turutmewarnai perkembangan seni rupa di Indonesia. Biasa senikaligrafi dipakai untuk hiasan pada bangunan masjid, motifbatik, hiasan keramik, hiasan pada keris, hiasan pada batu nisan,dan pada dinding rumah.

e. Tradisi dan Upacara
Kebudayaan Islam yang masuk keNusantara mengalami proses akulturasidengan tradisi
dan upacara masyarakatsetempat. Misalnya, tradisi terhadapseseorang yang sudah meninggaldiadakan selamatan hari ke -1 sampai ke-7, ke-40, ke-100 dan ke-1000. Demikianjuga tradisi nyekar (ziarah ke makamdengan menaburkan bunga dan air kemakam).

Upacara-upacara keagamaan yangsampai saat ini senantiasa diselenggarakanseperti peringatan hari-haribesar Islam, misalnya Maulud Nabi, IdulFitri, Idul Adha, dan 1 Muharram.Upacara adat tradisional GrebekMaulud di daerah-daerah tertentudisertai dengan pencucian keris dandiramaikan dengan seni pertunjukanlainnya.Upacara yang berkaitan dengansiklus kehidupan, seperti kelahiran,perkawinan, dan kematian merupakanrutinitas kegiatan masyarakat Islam.Mereka memadukan dengan adatistiadat setempat.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Agama Islam masuk ke Indonesia mayoritas dibawa oleh para pedagang Muslim dari Arab, India, Cina, dan Persia. Kedatangan mereka secara damai dan penuh dengan ramah tamah menjadikan rakyat Nusantara pada masa itu tertarik pada orang-orang Muslim terlebih agama yang mereka anut. Begitu banyak pula para penguasa maupun raja-raja yang tertarik dengan budi akhlak mereka sehingga pernikahan dengan putri raja pun terjadi. Hal inilah yang menjadi faktor utama berdirinya Kerajaan/Kesulthanan di Indonesia dan Berjaya hingga zaman imperialisme barat berkuasa. Pada masa penjajahan pun umat Muslim tidak hanya diam. Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara menyatukan kekuatan bersama-sama berperang mengusir penjajah. Bahkan, sampai detik-detik proklamasi pun umat Muslim memegang kontribusi yang besar. Oleh karena itu, lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tak pernah lepas dari bantuan tangan umat Muslim di Nusantara.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Rachmad. 2005. Kerajaan Islam Demak : Api Revolusi Islam di Tanah  Jawa (1518-1549). Sukoharjo: Al-Wafi.

Amin, Samsul Munir. 2013.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: Remaja  Rosdakarya.
Anonim. “Kuntu Darussalam : Kerajaan Islam Pertama di Riau”. Diakses pada 19  Maret 2016 pukul 10.51 dari  http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpntanjungpinang/2014/06/08/kuntuda russalam-kerajaan-islam-pertama-di-riau/.
Azra, Azyumardi. 2002.Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal. Bandung:  Penerbit Mizan.
Boland ,E. J.. 1985.Pergumulan Islam di Indonesia : 1945-1972. Jakarta: Grafiti  Pers
Darmawijaya. 2010.Kesultanan Islam Nusantara.Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
Gholib,Achmad. 2005.Study Islam.Jakarta: Faza Media.
Kartodirdjo, Sartono. 1992.Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah  Pergerakan Nasional , Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme jilid 2.  Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Marsden,William. 1999.Sejarah Sumatera. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pusponegoro, Marwati Djoned dan Notosusanto, Nugroho. 1992. Sejarah  Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Yatim, Badri. 1993.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Diposting oleh Aryo Dhimaz di 19.48